IndependenNews.com – Humbahas | Meski baru hitungan beberapa bulan setelah selesai dikerjakan, 3 proyek fisik yang berada di Kecamatan Pollung, sudah mengalami kerusakan parah.
Masing-masing ketiga proyek tersebut diketahui dikerjakan di tahun pertama era kepemimpinan Bupati Oloan Nababan di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) sejak terpilih di Pilkada Tahun 2024 lalu.
Ketiga proyek itu yakni pengaspalan Jalan Parsingguran Ronggur Nihuta senilai Rp 149.444.000,- yang dikerjakan oleh CV Karya Olah Mandiri. Kemudian, proyek pembangunan jembatan di Desa Pardomuan senilai Rp 985.000.000,- yang dikerjakan CV Beatrix. Dan satu lagi, proyek perawatan Jembatan Sihatunggal di Desa Parsingguran II senilai Rp 99.130.000,- dikerjakan oleh CV Karya Sari Tresna.
Dan jika ditotal keseluruhan nilai anggaran yang dikucurkan dari APBD TA 2025 pada ketiga proyek tersebut, semuanya mencapai 1 milliar lebih.
Hasil pengamatan wartawan, Jumat (8/5/2026), proyek pengaspalan yang dikerjakan CV Karya Olah Mandiri di Dusun VII Desa Parsingguran II, terlihat sudah banyak yang mengalami kerusakan di beberapa titik.
Proses pengaspalan yang diduga terlalu tipis menyebabkan sejumlah badan aspal telah mengalami pergeseran, dan bahkan ada yang sudah berlubang.
Di beberapa sudut badan jalan juga terlihat rerumputan liar sudah menyeruak dan tumbuh subur. Minimnya penggunaan material batu dan penyiraman lapisan penetrasi yang tipis diduga penyebab rumput liar bisa tumbuh menembus permukaan aspal.
“Kurang banyak aspalnya. Panjang jalan 270 x 3 meter, kontraktornya hanya menggunakan 12 drum aspal. Ada pun tambahannya 2 drum, sepertinya sudah bekas pakai”, ucap Banjarnahor, salah satu warga setempat yang diwawancarai wartawan baru-baru ini.
Sementara, proyek perawatan Jembatan Sihatunggal di Desa Parsingguran II yang dikerjakan CV Karya Sari Tresna, terlihat sudah mengalami kerusakan yang sangat parah.
Saluran irigasi yang dibangun di sisi jembatan terlihat mengalami retak dan pecah. Pecahan beton terlihat menganga dan nyaris jatuh ke sungai.
Dan jika dibiarkan, dalam waktu dekat, saluran irigasi tersebut diprediksi pasti akan ambruk.
Kerusakan serupa juga terjadi pada proyek pembangunan jembatan di Desa Pardomuan. Proyek yang dikerjakan CV Beatrix tersebut secara kasat mata terlihat berantakan.
Cat jembatan yang menggunakan warna merah darah yang sudah memudar, membuat kesan seolah-olah jembatan tersebut identik dengan suasana horor.
Rabat beton yang dicor untuk menyambung ujung aspal ke badan jembatan terlihat tanggung. Permukaan coran rabat beton dengan jalan yang tidak rata membuat setiap kendaraan akan susah melewatinya.
Pada sayap jembatan juga terlihat sudah mengalami keretakan. Sehingga membuat masyarakat yang melintas menjadi was-was.
Keterangan diperoleh dari salah warga setempat, saat proses pengecoran abutment dan pondasi jembatan itu, para pekerja tidak menggunakan rangkaian besi.
“Besi hanya ditancap-tancapkan pada adukan coran semen”, kata warga tersebut, yang mengaku melihat proses pengerjaan jembatan tersebut.
Selain itu, narasumber itu menambahkan, kala pengerjaannya, pekerja juga tidak menyediakan jembatan darurat sementara supaya masyarakat bisa melintas.
“Mobil dan sepeda motor kerap dipaksa berputar balik ke Simpang Hutapaung. Pekerja tidak memasang tanda. Padahal jaraknya sudah sangat jauh”, ucapnya.
Sementara itu, terkait kejanggalan ketiga proyek di Kacamatan Pollung tersebut, wartawan sudah berusaha mengkonfirmasi ke pihak Pemerintah Kabupaten Humbahas.
Dinas PUTR Humbahas selaku pihak yang berwewenang dalam hal pengerjaan dan pengawasan ketiga proyek itu, hingga kini belum memberikan keterangan.
Kabid Bina Marga Tulus Sipahutar, yang sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atas masing-masing proyek itu, juga tak menanggapi pertanyaan wartawan yang dikirim via pesan WhatsApp (WA) meskipun sudah centang biru. (Rachmat Tinton)