Sarana dan Prasarana Pendidikan di Daerah Perbatasan Terluar Kabupaten Lingga Minim

0
50
Foto : anak-anak Perbatasan Kabupaten Lingga (juhari)

Independennews.com, Lingga | Kemiskinan merupakan salah satu problem sosial yang amat serius di masyarakat pesisir khususnya Pulau Pekajang dan Berhala yang merupakan daerah Terluar Kabupaten Lingga

Faktor pendidikan menjadi salah satu hal yang penting dalam upaya peningkatan perekonomian masyarakat. Sayangnya, hingga saat ini pendidikan menjadi sesuatu yang mahal bagi masyarakat pesisir. Sarana dan prasarana yang minim menjadi faktor penghambat berkembangnya pendidikan di daerah pesisir Kabupaten Lingga yang menjadi perbatasan dengan daerah lain.

Dua daerah di Kabupaten Lingga yakni Desa Berhala dan Desa Pekajang memiliki sekolah yang masih butuh perhatian adalah SD di Desa Berhala Kecamatan Singkep Selatan dan sekolah yang ada di Pulau Pekajang.

SD Negeri 005 Desa Berhala

Sarana dan prasana pendidikan di SD Negeri 005 tersebut sangatlah minim, mulai dari persoalan biaya transportasi yang sangat mahal, tak sebanding dengan gaji guru honorer yang hanya 600 ribu perbulan hingga fasilitas pembangunan sekolah yang serba tidak lengkap.

Mahalnya biaya transportasi menjadi persoalan yang utama, bagi pengajar, “mau menangis tidak ada air mata, mau menjerit tidak ada suara” kata Juniardi kepala sekolah SD Negeri 05 Berhala, Selasa (28/9/2021)

Dikatakan, transportasi reguler tidak ada hingga para guru harus mencarter speedboat dari pelabuhan Dabo dengan biaya sekali jalan Rp 1 juta. “Itupun pada musim gelombang tenang, jika memasuki musim Utara dan selatan tidak ada yang mau mengantar kalau adapun biayanya memjadi Rp 2 juta rupiah,” ucapnya.

Sementara itu di sisi pembangunan sekolah juga sangat minim, sejak dibangun pada tahun 2002 lalu di usul kan agar pemerintah merelokasi pembangunannya kembali mengingat keadaan fisik bangunan sudah tidak memungkinkan lagi untuk direnofasi, pondasinya sudah pada retak dan pecah, atap sudah banyak bocor, selain itu tidak memiliki majelis guru dan WC baik untuk guru maupun anak didik

Keberadaan pembangunan yang ada saat ini yakni Bangunan 6 Kelas dengan jumlah tenaga pendidik guru PNS 4 orang, guru Honor 2 oran, GTT Kabupaten 1 0rang serta Penjaga Sekolah 1 Orang dengan Jumlah Murid 20 orang Kelas 1 hingga kelas 6.

Sekokah di Pulau Pekajang

Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri. 008 Lingga, Desa Pekajang, Jailani S.Pd mengatakan, saat ini jumlah guru di SD. 008 Lingga sebanyak 8 orang, diantaranya 6 guru PNS dan dua guru honor, dengan 56 orang anak murid. saat ini SD. 008 belum adanya perpustakaan, dan untuk majelis guru karena sekolah ini sudah lama meski bagus, namun majelis terlalu kecil untuk kapasitasnya, kalau untuk Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) kami sudah ada yang dibangun pada tahun 2019.

Jailani menjelaskan, yang menjadi kendala kami diwilayah perbatasan ini, adalah jaringan internet untuk komunikasi, walau pun saat ini sudah ada tower mini, tapi sulit diakses untuk pengiriman fail bisa satu hari baru masuk. selain itu, transportasi juga menjadi kendala bagi kami, sekarang ini kami terbantu dengan adanya Tol Laut, yang masuk dalam 12 hari sekali, namun terkadang Tol Laut tersebut tidak masuk karena sedang dok atau terkait kontrak akhir tahun.

“Untuk berdirinya SDN. 008 ini, kami tidak mengetahuinya secara pasti, hanya dari informasi SDN. 008 ini didirikan sejak kapal keruk Timah Riau Tin Mining (Ritin), beroperasi di laut Desa Pekajang ini, saat ini kami sangat berharap ada penambahan terutama terkait jaringan internet, karena sangat sulit jika kami tidak memiliki jaringan internet yang baik, karena pelaporan pekerjaan banyak menggunakan online,” kata Jailani yang dihubungi melalui telepon selulernya. Rabu (29/9/2021).

Dalam belajar mengajar, lanjut Jailani, kami SDN.008 mengikut arahan dari dinas dan Satgas Covid-19, jika dinas mengarahkan untuk belajar secara Daring kami akan Daring, namun untuk sekarang dalam belajar mengajar kami sudah tatap muka.

“Murid SSN. 008 di Desa Pekajang ini, minat sekolah muridnya sangat tinggi, kami sebagai tenaga pengajar juga merasa puas dengan minat belajar mereka yang tinggi tersebut, ditambah lagi adanya dukungan dari masyarakat cukup kuat,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri. 004 Lingga, di Desa Pekajang, Riki Richardo menyampaikan, di SMPN. 004 terdapat 9 orang guru PNS, 1 guru honor, 1 Tata usaha dan 1 penjaga sekolah, semuanya berjumpah 12 orang. sementara untuk siswa kami berjumlah 27 orang, dan 1 siswa diantaranya berasal dari Provinsi Bangka Belitung.

Kondisi fisik dari gedung SMPN ini, jelas Riki, sebenarnya sudah tidak layak lagi di gunakan untuk ruang belajar mengajar, 3 ruang kelas dan 1 majelis guru yang dibangun pada tahun 2012, yang sampai saat ini belum pernah di rehab, dengan kondisi plafonnya sudah habis semua karena terbuat dari baja ringan, karena untuk Plafon yang menggunakan kerangka baja ringan tidak cocok untuk di daerah pulau lebih bagus menggunakan kayu, dimana angin kencang dan cuaca selalu tidak menentu.

“Untuk bangunan lainnya, seperti Perpustakaan, Gudang dan Kantin pernah di rehab menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) pada tahun 2018, namun 3 ruang untuk proses belajar mengajar dan majelia guru belum pernah direhab,” ungkap Riki.

Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah hingga saat ini belum menjadi solusi bagi tenaga pengajar maupun anak anak di daerah pesisir untuk mendapatkan pendidikan yang maksimal. Letak daerah yang jauh dari pusat pemerintahan maupun ekonomi menjadi penyebab mahalnya tranportasi yang ditempuh. Minimnya fasilitas penunjang juga menjadi faktor lain yang menyebabkan hingga saat ini, pendidikan di daerah pesisir mendapat julukan “terbelakang”.

Upaya Pemerintah Daerah

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Lingga, Junaidi Adjam, mengatakan, sesuai tugas dan fungsi yang dimiliki, pihaknya telah berupaya meminimalisir hambatan proses belajar mengajar di sekolah sekolah di pesisir Lingga.

Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah dengan mengusulkan insentif guru terpencil kepada Kementerian Pendidikan. Upaya ini membuahkan hasil pada Tahun 2021, Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga berupaya keras untuk memperjuangkan tunjangan guru yang berada di daerah khusus.

“Dengan berbagai upaya yang kami lakukan maka Kemendikbud Ristek merealisasikan pembayaran Tunjangan Khusus Guru (TKG) di Lingga,” kata Junaidi.

Junaidi mengatakan pada 2019 lalu hanya 15 orang guru PNS dari 2 sekolah yang berada di Desa Pekajang, Kecamatan Lingga,yang mendapatkan tunjangan khusus.

Untuk itu, pada 2020 Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga kembali mengusulkan TKG ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Yang akhirnya disetujui hanya 11 desa, 29 sekolah dan sebanyak 136 guru PNS dan Honorer mendapatkan TKG dengan pembayaran Cary Over (CO) di 2021 berdasarkan Permendikbud nomor 19/2019.

Pada 2021 ini, dengan Kepmendikbud No.160.P/2021 tentang daerah khusus berdasarkan kondisi geografis atau Indeks Akses Satuan Pendidikan (IASP), dari 75 Desa di Lingga hanya 12 Desa yang disetujui dan masuk 31 sekolah.

“Sehingga sebanyak 152 guru PNS dan 42 guru Honorer mendapatkan TKG untuk Triwulan I dan Triwulan II di tahun 2021 ini,” jelas Junaidi.

Selain memperjuangkan tunjangan khusus ini, sesuai ketersediaan anggaran Disdikpota Lingga juga terus membuat program untuk melengkapi fasilitas dan sarana penunjang di seolah sekolah pesisir.

“Semoga dengan berbagai upaya yang kita lakukan dapat memotivasi guru dan para anak didik untuk lebih semangat dalam menumpuh pendidikan. Kedepannya kita berharap pendidikan di pesisir lebih baik, ‘ imbuhnya. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here