Pengerjaan Proyek Perbaikan Sungai Sagulung Tahap V sarat penyimpangan

0
690

batam – Proyek Perbaikan Sungai Sagulung Tahap V di Kota Batam, Kepulauan Riau dengan pagu proyek Rp 7,762.526 769,- yang dikerjakan PT. Benteng Indo Raya dengan konsultan PT. Sri Agung Jaya, di duga sarat penyimpangan, Pasalnya pengerjaan proyek itu diduga tidak sesuai dengan bestek yang ditetapkan. Pasalnya pengecoran slop dan coloum dikerjakan tanpa melalui proses lantai kerja, atau dicor diatas lumpur.

Pantauan independennews.com dilokasi pengerjaan proyek, perusahaan pemenang tender itu, mengecor pondasi atau slop penyanggah bibir sungai dilakukan diatas lumpur, tidask hanya itu, pematangan tanah pada bahu sungai atau bibir sungai menggunakan lumpur, padahal seyoknya timbunan pada sisi bahu paret seharusnya harus menggunakan tanah keras, bukan seperti yang dilakukan kontraktor itu dengan menggunakan lumpur hasil galian sungai yang sengaja ditarik ke pingggir parit untuk dipergunakan sebagai timbunan pada bibir sungai.

Proyek Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Sumber Daya Air SNVT Pelaksanaan Jarigan Sumber Air Sumatera IV Propinsi Riau yang menghabiskan anggaran Rp 7,762.526 769,- Namun sangat di sayangkan proyek yang menelan dana milyaran rupiah ini di kerjakan asal jadi.

“Salah seorang warga Sagulung berinisial Pa kepada independennews mengaku heran pasalnya ketiga ia melihat pengecoran pondasinya kayu jerocok yang digunakan adalah kayu sembarang tidak menggunakan kayu laut.

Bahkan lanjut Pa, kayu jerocok yang di benamkan diduga tidak sampai ke dasar tanah yang keras.

“Hal ini tentu saja mempengaruhi kekuatan dari pondasi bangunan beton sungai Sagulung ini,” ujarnya sambil menunjuk bangunan beton yang telah dibangun.

Selain itu, masih menurut Pa tinggi dari tiang beton Sungai Sagulung ini masih terlalu rendah pasalnya jika sungai Sagulung tersebut kelak selesai di bangun akan menjadi tempat penampungan pembuangan saluran air warga di sekitar Kecamatan Sagulung.

“Jika hujan deras maka tembok beton tersebut karena kurang tinggi tidak akan mampu menampung luapan air, akibatnya luapan air akan mengalir kepemukiman warga disekitar sungai ini,” ujarnya.

Dikatakannya, jarak bangunan beton sungai Sagulung tersebut paling ada sekitar 15 meter dari pemukiman rumah warga.

Ironisnya, bangunan beton sungai Sagulung tersebut ditimbun dengan menggunakan galian lumpur dari dalam sungai Sagulung tidak menggunakan tanah keras seperti tanah bauksit atau batu kerikil.

“Apa tidak sebaiknya bangunan beton tersebut di timbun dengan tanah bauksit atau batu kerikil sehingga ketika hujan tidak akan erosi terbawa air selain itu timbunan lumpur tersebut baunya sangat menyengat sehingga mengganggu kenyaman warga sekitarnya,” ujarnya.

Yang lebih parah lagi, dikatakannya besi besi yang dipakai PT Benteng Indo Raya besi material dari produk Cina tidak menggunakan besi yang berlabel Standard Nasional Indonesia (SNI).

” Saya sering menonton ditelevisi iklan iklan agar menggunakan material kontruksi bangunan yang berlabel Standard Nasional Indonesia (SNI),”

Pa juga menyebutkan ia pernah membaca di media massa Tim Pengawasan Dinas Perindustrian dan Perdagangan ( TPBB) provinsi Kepri sering merajia toko toko bangunan yang menjual material besi dan baja yang tidak memiliki label SNI.

Bahkan, dikatakannya pedagang yang menjual besi dan baja tidak memiliki label SNI ketika itu dijerat dengan Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen diancam kurungan penjara selama 5 tahun dan denda sebesar 2 milyar.
” Tapi saya jadi heran kok bisa pembangunan sungai Sagulung ini di bangun dengan besi yang tidak memiliki label SNI ya ,” ujarnya sambil menggelengkan kepalanya

Pa curiga PT Benteng Indo Raya bekerja sama melakukan korupsi dengan pihak Satuan Kerja SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Sumatera IV Provinsi Kepri.

Ia berharap agar pihak BPKP dan penegak hukum lainnya turun untuk mengaudit Pengerjaan proyek perbaikan sungai di wilayah Sumatera IV di kecamatan Sagulung Kota Batam ini. Disinyalir, cara kerja dan penggunaan material yang tidak SNI dilakukan juga pada pembangunan pada tahap tahap sebelumnya.

Seorang pengawas pegawai Satuan Kerja SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Sumatera IV Provinsi Kepri, Fellon Simbolon ketika ditemui independennews.com menyebutkan pengerjaan proyek pembangunan Sungai Sagulung telah sesuai dengan Petunjuk Teknis (Juknis) dan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak). Namun sangat di sayangkan ia tidak bersedia menunjukkan Juknis dan Juklak proyek pembangunan sungai Sagulung tersebut. (TIM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.