Nelayan Tradisional Belawan Hidup Dibawah Garis Kemiskinan, Pembela Kaum Nelayan ‘Bak Tak Acuh

0
55

BELAWAN, Menapaki Titi Gantung Batam Ujung Tanjung, Lingkungan 15, Kampung Batam (Bagan Tambahan) Belawan. Terlihat cahaya mentari beranjak tinggi mengarah ke barat. Sore itu sesekali pandangan mata terhalang oleh hangatnya sinar matahari.

Bila melirik ke bawah dari atas Titi Gantung Batam, terdengar sayup-sayup air mengalir diterpa angin laut lepas Belawan. Dan jejeran rapi perahu nelayan tertambat di depan rumah yang kesemuanya berdinding kayu.

Senja hari itu terlihat kesibukan para nelayan yang pulang dari melaut. Dan ada pula nelayan yang sedang merajut jala rusak. Dan sebahagian nelayan lagi berkemas-kemas untuk berangkat melaut pagi dini hari.

Penduduk Ujung Tanjung Kampung Batam Belawan mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan pinggiran.

Keseluruhan warga Kampung Batam Belawan masih memegang teguh adat istiadat dan aturan peninggalan para tetua disana. Sikap saling menghormati diperlihatkan antara yang tua dengan anak muda dan sebaliknya.

Setiap harinya suasana guyub menghiasi pergaulan warga di Kampung Batam. Acara takziah dan perwiritan saat kemalangan pun merupakan acara yang sakral buat masyarakat Kampung Batam.

Mayoritas nelayan di pesisir Belawan tetap saja hidup dalam garis kemiskinan. Mata pencaharian mereka terkikis dengan rusaknya ekosistem alam disebabkan limbah industri serta perambahan hutan. Meskipun demikian kaum pembela nasib nelayan tak acuh.

Potret Kemiskinan kehidupan nelayan di pesisir Belawan adalah permasalahan yang sangat kompleks yang harus dibenahi. Tetapi hingga kini keadaan tersebut tak pernah mendapat perhatian dan selalu diabaikan.

Contoh kecil yang menjadi rintangan para lembaga serta aktifis pembela kaum nelayan adalah persoalan limbah di hilir laut Belawan. Limbah industri yang menggangu dan mencemari lingkungan di kawasan perairan Belawan terlihat seakan menari-nari diatas penderitaan orang banyak.

Bukan hanya itu, perairan yang menjadi tempat mata pencaharian para nelayan tradisional hilang akibat pembabatan hutan mangrove oleh pengusaha dan dijadikan sebagai kebun kelapa sawit.

Sangat disayangkan tak satu pun kaum yang notabene menyebutkan namanya sebagai pembela kaum nelayan tak berani membela hak-hak nelayan tradisonal ini.

Namun sebaliknya para kaum yang menyebutkan namanya sebagai pembela Nalayan ini, dalam setiap kesempatan di mimbar-mimbar dan dihadapan para pejabat kerap berkoar-koar mengatakan dialah paling berkorban untuk membela kehidupan nelayan.

Kepada Awak Media ini, Minggu (8/11/2020) aktifis nelayan tradisional Rafai (45), mengatakan bahwa penutupan paluh di kawasan hutan Mangrove mendekat laut Belawan telah lama berlangsung. Bahkan saat ini kegiatan itu semakin menjadi-jadi sehingga banyak hutan mangrove yang telah dijadikan perkebunan sawit.

“Dengan pembabatan hutan mangrove, saya tidak yakin kalau nelayan tradisional hidupnya bakal sejahtera,” kata Rafai saat menerima bantuan konversi BBM ke BBG kepada nelayan tradisional oleh Dirjen Migas, Komisi VII DPR RI, PT Pertamina di Kec. Hamparan Perak.

Salah seorang warga Ujung Tanjung Kampung Batam, May (27) mengaku keseharian penghasilan sebagai nelayan tradisional, suaminya Iyan hanya pas-pasan saja. Bahkan terkadang tak ada membawa hasil sama sekali.

“Bang sekarang ini suamiku membawa uang hanya Rp 40 ribu ke rumah. Terkadang kami harus meminjam tetangga untuk beli susu si kecil,” kata May saat berbincang dengan awak media.

Seorang tokoh nelayan yang dituakan di Belawan Khairudin Nasution alias Kadin, terpancar wajahnya yang begitu keras dengan sorot matanya tajam, mengatakan kalau dirinya sejak dahulu tegar dengan keadaan.

“Masyarakat di Kampung Batam ini haruslah tegar dalam segala hal. Selalu tebar kebaikan walau sesulit apapun. Itulah pesan tetua kita disini,” ucap Kadin. (Idris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here