Komunitas Penggiat Literasi FTBM Tak Puas Dengan Hasil Rapat di DPRD

0
102
Foto : Situasi RDPU Komisi IV DPRD Batam dengan Komunitas penggiat literasi, Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM)

Independennews.com, Batam – Komunitas penggiat literasi, Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) yang diwakili oleh Bendahara FTBM Kota Batam, Anas Rullah Simanjuntak merasa kurang puas dengan hasil rapat yang digelar oleh Komisi IV DPRD Kota Batam, Rabu (23/6/21).

Anas menilai, Dinas Perpustakaan, Dinas Pendidikan dan Dinas Kesatuan Bangsa dan Politik, memandang seolah-olah pihaknya fokus mengejar anggaran.

“Pada kesimpulannya kami merasa kurang puas, karena kami ini kesannya seolah-olah mengejar anggaran,” ujar Anas.

Memang kata Anas, itu adalah salah satu poin dari 8 rekomendasi yang diajukan pihaknya kepada pemerintah, namun bukan menjadi poin utama.

“Salah satunya memang kami meminta bantuan buku, pengadaan rak dan sebagainya, namun yang paling kami inginkan adalah diberikan kemudahan dan dukungan dalam menjalankan tugas tugas ini,” ujarnya.

Ia mengaku sudah bertahun-tahun berkiprah sebagai aktivis literasi, namun belum pernah meminta bantuan kepada pemerintah.

“Memang kalo pejabat-pejabat publik mengira ini soal anggaran, memang agak tabu bagi kami. Karna selama ini kegiatan itu kami lakukan tanpa bantuan pemerintah,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Komisi IV DPRD Kota Batam sangat mendukung keinginan FTBM tersebut.

“Kami pada dasarnya sangat mendukung kemajuan literasi di kota Batam. Kami juga mengapresiasi FTBM yang meminta ingin mencerdaskan anak bangsa melalui taman bacaan,” ujar Anggota Komisi IV, Nina Mellanie.

Namun kata Nina, terkait permohonan yang menyangkut dana harus mengikuti peraturan atau mekanisme yang ada.

“Kami setuju namun sesuai pemaparan dinas terkait yaitu menyangkut dana, kita harus mengikuti peraturan atau mekanisme peraturan aturan yang ada,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Anggota Komisi IV, Taufik Muntasir. Ia mendukung hal yang diinginkan oleh FTBM, namun pada poin rekomendasi tertentu seperti mendorong buku yang lahir dari pengarang di Batam sulit untuk dilakukan.

“Mereka ini bukan saja menginginkan buku-buku, namun juga mendorong buku-buku itu lahir dari pengarang yang ada di Batam, dan itu sangatlah terbatas,” ujar Taufik.

Terkait dengan hal ini, Anas mengatakan belum menemukan titik terang. Ia menilai persetujuan tersebut terkesan hanya formalitas saja.

Lanjut Anas, Ia mengatakan akan mengejar program dinas terkait, apakah sesuai yang diucapkan dengan kondisi di lapangan.

“Jika nanti hasilnya sudah dapat, kami akan bahas dengan pihak internal, sehingga kami akan melanjutkan rekomendasi berikutnya baik kepada dinas pemerintah maupun DPRD,” tukasnya.

“Kami berharap kepada pemerintah karena mengingat Batam merupakan gerbang Indonesia kepada negara tetangga agar memperhatikan penggiat literasi ini, mohon uluran tangannya,” harapnya.(SOP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here