Komunitas Adat Terpecil Ikuti Jambore Kader Pos Yandu Tingkat Kab Lingga

0
78

INDEPENDENNEWS.COM, LINGGA — Kader pos yandu merupakan pilar pendorong pembangunan dibidang kesehatan, karena mereka bekerja tampa pamrih. Hal ini dikatakan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lingga Heryulita H.Alias Wello, saat membuka “Jambore kader posyandu” yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Lingga, Selasa (5/11/19) di Gedung Nasional Dabosingkep.

Dikatakan Heryulita, pos yandu merupakan kegiatan dasar yang diselenggarakan dan diperuntukkan untuk masyarakat dibantu oleh petugas kesehatan.

“Selain itu Pos yandu juga sebagai wadah pemeliharan kesehatan yang perlu di bina demi kesehatan masyarakat,” kata ketua TP PKK Kabupaten Lingga.

Menurutnya kegiatan Jambore kader pos yandu sangat baik dilaksanakan dan perlu di berikan apresiasi karena dapat menunjang sumber daya manusia. Dengan adanya kader pos yandu akan lebih cepat menanggulangi permasalahan kesehatan. Keterampilan yang di miliki kader tentunya dapat mencegah dan mengatasi permasalahan di daerah, seperti Kasus Stunting.

” Di wilayah Kabupaten Lingga masih ada tiga daerah yang masih dalam penanggulangan kasus stunting, angka ini tentunya lebih kecil dari yang terjadi di wilayah Kabupaten lainnya. Stunting adalah pertumbuhan yang tidak sesuai dengan umur di karenakan kurangnya asupan gizi “. Ujar Heryulita.

Sementara itu, Wahyudi Ekaputra mewakili kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lingga selaku pelaksana kegiatan melaporkan, bahwa tujuan Jambore Kader Posyandu dilaksanakan untuk meningkatkan kinerja bagi para kader pos yandu, dalam gerakan masyarakat hidup sehat.

“Dari sekian banyak kader posyandu yang ikut terdapat satu rombongan berjumlah lebih kurang 50 orang dari Komunitas Adat Terpencil (KAT) mewakili kecamatan selayar.” ujar Wahyudi Ekaputra

Selain itu dalam pawai, komunitas ini juga memperagakan tata cara adat perkawinan hingga melahirkan dengan cara adat yang tidak lagi di budayakan seperti menggunakan jasa dukun.

” Mereka tidak lagi melahirkan di sampan maupun di rumah, akan tetapi sudah ke puskesmas,” ujar Wahyudi Ekaputra

Sementara itu, Trinurika membeberkan bahwa dirinya pertama kali sulit untuk membina para suku KAT, karena mereka tidak dapat berdialog berbahasa Kita, namun secara perlahan lahan mereka dapat mengerti apa yang kita katakan.

“Selama 12 tahun saya mengabdi tata cara adat mereka sudah berubah, mereka aktif datang ke posyandu” tutup Trinurika. ( Juhari )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.