HUBUNGAN RELASI ANTARA MERTUA DAN MENANTU DITINJAU DARI KITAB RUT

0
869

Poto Ilustrasi

Dibuat oleh : SABAR SITORUS Mahsiswa Fakuktas Ilmu Teologi UKSW

Perkawinan tidak hanya sebatas menyatukan antara pria dengan perempuan, namun yang lebih penting menyatukan dua keluarga yang berbeda menjadi satu hubungan yang didalamnya terdiri dari mertua dan menantu. Keharmonisan dalam dua keluarga menjadi hal yang mendasar dalam perkawinan. Tetapi, keadaan tidak dapat diperkirakan, ada yang berjalan mulus dan ada yang tidak berjalan dengan mulus.

Kehidupan keluarga antara mertua dan menantu perempuan selalu menarik untuk dibahas. Dimana relasi atau hubungannya acapkali menjadi sebuah relasi berduri. Kesalahpahaman dan luka-luka batin tidak jarang terjadi sehingga relasi suami-istripun akan terpengaruh dan memburuk akibat masalah tersebut. Relasi yang kurang baik antara mertua dan menantu akan menimbulkan perang dingin antara mereka.

Terkadang konflik itu terjadi oleh karena hal sepele dan bisa berdampak fatal atau tidak baik antara suami-istri. Seperti video yang viral di Media social Tika Romauli Siregar dengan calon suaminya Windra Samuel Simangunsong “setipis bulung sangge-sangge”.

Dalam kejadian tersebut diceritakan, calon mertua melihat situasi calon menantunya hanya dari banyak dan besarnya perhiasan yang dikenakan oleh calon menantunya, sehingga pernikahanpun di batalkan. Calon mertuanya tidak bersedia menerima calon menantunya apa adanya.
Demikian halnya menantu, menantu merasa bahwa suaminya tidak dapat diganggu atau direpotin sehingga masukan atau kritikan yang bersumber dengan mertua sangat jarang dihiraukan. Menantu merasa bahwa apa yang dia lakukan kepada suaminya tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.

Menantu lebih sering sharing kepada teman-teman atau sahabatnya dibandingkan dengan mertua sehingga mertua merasa tidak dihargai, tidak disayangi dan diperlakukan dengan tidak sopan. Sebahagian menantu tidak tau memposisikan dirinya ditengah-tengah keluarga mertua sehingga kehadiran menantu menjadi konflik bagi mertua.

Terkadang menantu memaksakan yang menjadi keinginannya ditengah-tengah keluarga suami tanpa melihat perbedaan usia antara mertua dan dirinya. Ketidak mampuan menantu melihat kebutuhan itu menjadikan boomerang bagi mertua itu sendiri.

Ketika situasi seperti ini berlangsung terus menerus, tentunya hubungan keluarga tidak terjalin dengan baik atau terputus. Konflik peran diantara mertua dan menantu akan menimbulkan kesalahpahaman dan perselisihan. Padahal setiap keluarga akan menghendaki menantu yang baik hati dan mertua yang baik hati juga yang selalu menghadirkan kebahagiaan dan rasa damai ditengah keluarga.

Hubungan atau relasi yang baik itu tidak diukur dari seberapa cantik atau elok parasnya menantunya tetapi bagaimana menantu mampu memahami mertuanya seperti memahami dirinya sendiri. Ketika menantu mampu memahami mertua perbedaan umur tidak menjadi persoalan dan tantangan, tetapi menantu menciptakan suasana yang harmonis dan bahagia didalam diri mertua tersebut.

(Simmel dalam Wirawan, 2012:86) mengatakan bahwa ungkapan permusuhan didalam konflik membantu fungsi-fungsi positif sepanjang konflik itu dapat mempertahankan perpecahan kelompok dengan cara menarik orang-orang yang sedang konflik. Jadi konflik itu dipahami sebagai suatu alat yang berfungsi untuk menjaga kelompok sepanjang dapat mengatur system-sistem hubungan.

(Cooser dalam Wirawan, 2012:86) juga dengan konflik funsinya menyatakan, bahwa konflik dapat mengubah bentuk interaksi, sedangkan ungkapan perasaan permusuhan tidaklah demikian. Bagaimana kondisi real relasi antara mertua dengan menantu dalam keluarga batak toba.

Keharmonisan dalam hubungan keluarga, khususnya mertua dan menantu tak bisa terjadi begitu saja, karena menantu adalah sosok baru dalam keluarga laki-laki, karakter dan kepribadiannya masih belum diketahui banyak oleh mertua.

Kondisi yang sama juga dihadapi oleh menantu yang tiba-tiba harus memperlakukan orang lain atau keluarga lain layaknya sebagai orangtuanya. Sekalipun sulit menjalin hubungan baik dengan mertua, tetapi menantu harus berusaha. Karena kelangsungan hubungan pernikahan bergantung pada kemampuan dalam menjaga hubungan baik dengan orangtua kandung pasangan.

Menurut Ny. Silaen br Simatupang dalam tradisi Suku Batak toba, tahun 30-70an, mertua dan menantu perempuan mempunyai hubungan atau relasi yang harmonis. Menantu boleh dikatakan kesayangan keluarga pihak laki-laki. Ada mertua masih langsung memilih (manodo-batak) menantunya hanya karena sopan santunnya berbicara.

Biasanya setelah pernikahan menantu diwajibkan tinggal lama bersama dengan mertua, supaya diajari, dibimbing sehingga kelak mapan mengurus keluarganya serta menjadi istri yang bijaksana yang mampu mengelola apa yang ada dan menciptakan karya tangan sendiri untuk menambah penghasilan seperti menjahit (manjarum, mandungkap-batak), mengayam (mangaletek-batak), waktu yang cukup lama bersama mertua, kesempatan buat menantu untuk banyak bersosialisasi dengan keluarga suaminya.

Mertua tidak pernah menuntut menantunya berpendidikan yang tinggi dan pekerjaan artinya mertua menerima menantunya dengan apa adanya. Tetapi disisi buruknya beliau katakan menantu memiliki batas terhadap apa yang terjadi dalam keluarga laki-laki artinya tidak terlalu mencampuri urusan keluarga. Karena ada istilah dalam bahasa batak “ perempuan nunga dituhor “.

Pemahaman itu menbatasi ruang gerak menantu ditengah-tengah keluarga laki-laki. Komunikasi menantu perempuan dengan mertua laki-laki juga tidak terlalu bebas. Disamping itu juga didalam segi berpakaian menantu tidak bebas atau sembarangan untuk berpakaian.

Menantu harus mengenakan sarung dirumah dan pakaian celana panjang. Seluruh perhatian dan tenaga menantu seutuhnya hanya untuk pihak laki-laki tanpa memperdulikan dari pihaknya sendiri. Tetapi tahun 80an sampai sekarang beliau berkata bahwa dalam relasi mertua dan menantu merasakan ketengangan. Ketengangan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya perbedaan dari usia yang terlalu jauh berbeda menantu umur 25 – 40 tahun sedangkan mertuanya umur 60 – 70 tahun, pekerjaan, pendidikan, perekonomian.

Ketika menantu memiliki hal diatas menantu seolah-olah tidak membutuhkan lagi akan nasihat dari mertuanya. Merasa mampu dalam segala hal. Oleh karena itu, apapun problem yang dihadapi menantu didalam relasinya terhadap mertua, menantu harus bersikap arif untuk menghadapinya.

Oleh karena itu, persiapan dalam menyelesaikan masalah mertua dengan menantu harus menjadi perhatian serius bagi calon pengantin baru. Terkadang juga mennantu merasa paling mampu dari mertua bahkan sebaliknya Mertua terlalu menuntut jikalau anaknya berhasilebih banyak diam kareItu sebabnya relasi atau hubungan antara mertua dan menantu pada saat ini tidak seharmonis di jaman dulu Tidak jarang kita temui bahwa menantu tidak diperbolehkan banyak bekerja.

Pandangan Kristen terhadap hubungan Mertua dan Menantu

Untuk mewujudkan keharmonisan atau kebahagiaan hubungan antara mertua dan menantu, tergantung kepada sikap kita sendiri. Beberapa orang berkata “ Sebelum engkau bisa mengubah orang lain terhadap dirimu, ubahlah lebih dahulu sikapmu sendiri terhadap orang lain “. Artinya keduanya harus menyadari fungsi atau peranan di dalam keluarga. Kebahagiaan tidak datang begitu saja, tetapi membutuhkan cara atau metode untuk menciptakannya.

Ketika mertua dan menantu merenung tentang keberadaannya sebagai ciptaan Tuhan yang mulia dan berharga pasti akan menciptakan kebahagiaan bersama. Alkitab tidak memberikan penilaian bahwa mertua dan menantu salah, tetapi bagaimana antara mertua dan menantu memancarkan kasih Kristus ditengah-tengah kehidupannya.

Karena Alkitab berkata dalam 1 Korintus 13 : 13 : Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah kasih. Karena kasih menutupi banyak sekali dosa ( 1 Petrus 4 : 8 b ).

Rasul Petrus ingin menengaskan bahwa dengan Kasih kita tidak focus dosa, kekurangan, atau kesalahan seseorang. Kasih yang seperti itulah yang ingin di kisah oleh Rut kepada mertuanya Naomi dalam kitab Rut. Naomi adalah seorang perempuan Israel, sedangkan Rut adalah perempuan Moab.

Dari sejarah antara Israel dengan Moab tidak pernah akur. Israel adalah bangsa pilihan Allah sedangkan Moab adalah bangsa yang tidak mengenal Allah. Dari latar belakang yang berbeda Naomi dan Rut mampu menjalin hubungan yang harmonis selaku mertua dan menantu. Relai antara mertua dan menantu (Naomi dan Rut) menjadi contoh dalam hubungan mertua dan menantu.

Naomi seorang perempuan yang menikah dengan Elimelek, yang mempunyai dua anak laki-laki yang bernama Mahlon dan Kilyon. Kedua laki-laki ini menikah dengan perempuan asing bernama Orpa dan Rut. Musim kemarau yang berkepanjangan di Betlehem membuat Naomi, Suami dan anaknya mengungsi ke Moab. Tetapi di Moab, Naomi mengalami kehidupan yang pahit, yaitu meninggalnya suami dan kedua anaknya. Kepahitan yang dirasakan Naomi membentuk kepribadian dan imannya sehingga Naomi menjadi seorang mertua yang tangguh untuk menghadapi kehidupannya dan kedua menantunya. Situasi pahit yang dirasakan Naomi tidak memaksa menantunya untuk tinggal denggannya. Tetapi memberi kesempatan untuk kembali kerumah orangtua masing-masing setelah menantunya ditinggal anaknya.

Namun Rut dengan tegas memilih untuk tetap tinggal bersama dengan mertuanya Naomi. Kasih sayang Rut terhadap Naomi membuatnya untuk berkomitmen tetap tinggal dan ikut bersama dengan mertuanya. Cinta kasih yang dimiliki Rut terhadap mertuanya menjadikan mertuanya menjadi bahagian dari dirinya sendiri. Rut menyadari bahwa Naomi mertuanya harus dirawat, dikasihi, disayangi, ditemani serta dituntun dan dibimbing. Rut berkata Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku..
Relasi Rut (menantu) dengan Naomi (mertua) tidak berbeda dengan relasi mertua dan menantu dalam tradisi batak pada zaman dulu dimana mereka hidup dalam keharmonisan. Saling mengerti, memahami dan menghormati. Relasi yang baik antara Rut dan Naomi itu akan membuka paradigma baru pada menantu zaman sekarang untuk tetap memupuk rasa cinta, sayang, hormat dan peduli dan membuat mertua jadi bahagian yang terpenting dalam dirinya dan keluarganya.

Kisah Rut yang menunjukkan kasih setianya kepada Naomi wujud kasih setia Allah kepada kita. Komitmen yang total, tanggung jawab kepada mertua, taat kepada nasihat mertua wujud kasih Allah yang perlu kita tunjukkan kepada manusia, sesama terlebih Tuhan.

Daftar Pustaka
https://medan.tribunnews.com, Setipis Bulung Sanggesangge, 07 Oktober 2017; 12:07

Wawancara jemaat HKBP Bogor, Ny. Silaen br Simatupang, Selasa tanggal 26 November 2019, pukul 21.17 via telepon

Shintia Maria Kapojos, Hengki Wijaya, @ Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat, Perwujudan Kasih Setia Allah Terhadap Kesetiaan Rut, Juli 2018
Andar Ismail, 2010, Selamat Berkerabat, PT BPK Gunung Mulia
Andar Ismail, 2017, Selamat Mem barui, PT BPK Gunung Mulia
Cristian Counseling Center Indonesia, Hubungan Mertua dan Menantu, Agustus 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.