BP Batam Gelar Rapat Perkembangan dan Potensi Pemanfaatan Kerjasama Ekonomi Sub Regional IMT-GT

0
124
Foto : Rapat Pemko Batam dan BP Batam bersama Kemenko Perekonomian RI Bahas Kerjasama IMT-GT

IndependenNews.com, Batam | Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama Pemerintah Kota Batam serta Kementerian Koordinator Perekonomian RI menggelar rapat terkait Perkembangan dan Potensi Pemanfaatan Kerjasama Ekonomi Sub Regional IMT-GT.

IMT-GT merupakan singkatan dari Indonesia Malaysia Thailand Growth Trianggle, sebuah kerjasama Internasional yang melibatkan Pulau Sumatera, seluruh Semenanjung di Malaysia dan 14 Provinsi di Thailand yang ikut tergabung dalam kerjasama tersebut.

Kegiatan dihadiri oleh Asisten Deputi Bidang Kerjasama Ekonomi Regional dan Sub Regional, Netty Muharni; Kapus Pengembangan KPBPB dan KEK BP Batam, Irfan Syakir; dan Asisten Ekonomi dan Pembangunan kota Batam, Pebrialin, Jumat (19/11/2021) di Gedung Marketing Bifza BP Batam.

Dalam kesempatan itu, Asisten Ekonomi dan Pembangunan kota Batam, Pebrialin, mengatakan, rapat ini merupakan tindak lanjut dari hasil pertemuan lalu dimana ada 2 (dua) kota di Indonesia dan salah satunya adalah kota Batam yang telah ditetapkan sebagai Green City.

Menurutnya, ada 8 (delapan) atribut yang ditargetkan dalam kegiatan ini diantaranya Green Community, Green Enery, Green Water, serta tusi Perencanaan yang akan terus berlanjut hingga 2024 mendatang.

Dari kedelapan atribut tersebut, yang menjadi pusat perhatian adalah Green Energy terkait pengelolaan sampah yang ada di Batam hingga akhirnya bisa diolah menjadi energi.

“Yang menjadi perhatian tadi adalah Green Energy terkait pengelolaan sampah di Batam menjadi catatan penting bagi kita dan dengan adanya kerjasama ini kita berharap ada investor yang tertarik dalam rangka penanganan pengelolaan sampah menjadi energi,” ucap Pebrialin.

Di samping itu, para pelaku industri di Batam juga kerap mengeluh dengan keberadaan limbah B1 (sampah organik) dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang hanya memiliki tempat penampungan di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

“Harapan mereka ada sebuah Pulau tempat penampungan limbah sehingga tidak usah membuah ke Cileungsi karena terlalu jauh dan dampaknya dari sisi cost (biaya),

“Kemudian terkait Insentif yang diberikan kepada para Investor khususnya Halal Park, disamping standar Insentif yang diberikan, tapi ada juga Insentif yang diberikan kepada para Investor seperti di Malaysia, sehingga banyak Investor yang tertarik ke Malaysia,” terangnya.

Oleh karena itu, pihaknya berencana membangun tempat penampungan limbah tersebut di wilayah Bintan dan wilayah Nongsa.

Pada kesempatan yang sama, Kapus Pengembangan KPBPB dan KEK BP Batam, Irfan Syakir, menyambut baik dan berterimakasih kepada Kemenko Perekonomian yang turun langsung menyerap apa yang menjadi kebutuhan dalam skema kerjasama tersebut.

“Kerjasama ini tentunya akan membuka peluang kerjasama antara kawasan FTZ dan SEZ yang sudah ada, dan dari 8 sektor unggulan tadi dan akan kita highlight adalah KEK Digital di Nongsa,” ungkap Irfan.

Dirinya menuturkan, dari total 10 plot yang disediakan untuk investor, 2 diantaranya sudah ada investornya dan 8 sisanya sudah dalam pemesanan. Menurutnya, ini merupakan capain yang sangat luar biasa, karena sejalan dengan pembangunan infrastruktur dalam 2 tahun terakhir ini.

“Ditambah lagi adanya kemudahan pelayanan yang semakin mudah dan online, sehingga harapannya dengan adanya koridor baru, peluang kerjasama Batam kedepannya itu akan lebih besar dan lebih banyak alternatif lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Kerjasama Ekonomi Regional dan Sub Regional, Netty Muharni, mengatakan, terkait tempat pembuangan sampah B1 dan B3 ini sudah mendapatkan tawaran dari Denmark Energy Eficiency Partnership.

Hal ini juga sudah berhasil diterapkan di kota seperti di Malaka dan sudah berjalan dan rencananya akan diterapkan juga di Batam. Hal ini kata Netty, akan menghemat pengeluaran anggaran Pemerintah Daerah untuk energi sebanyak 25%.

“Dan untuk pengeluaran jangka panjang untuk energi menjadi lebih kecil dan kita tidak membutuhkan anggaran tambahan untuk melakukan efisiensi di segala bidang di kota. Ada potensi seperti itu karena sudah diterapkan.”Tutupnya (SOP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here