Gamelan di Ujung Jari Musisi Belanda

Independennews.com | SEMARANG – Denting bilah saron terdengar pelan dan ragu-ragu pada awalnya. Seorang pria berambut pirang mencoba memukulnya hati-hati, lalu mengulang beberapa kali hingga nadanya mulai selaras dengan instrumen lain. Lelaki itu seorang musisi asal Belanda. Bukan di Amsterdam atau Rotterdam ia belajar nada baru, melainkan di sebuah sanggar kecil di jantung Kota Semarang.

Hanya dalam tiga jam, ia bersama kawan-kawannya sudah mampu memainkan tiga gending Jawa. Bahkan, dengan logat asing yang kental, mereka turut melantunkan tembang klasik “Suwe Ora Jamu” dan “Tul Jaenak.” Meski jauh dari sempurna, alunan itu cukup membuat para pengajar gamelan tersenyum bangga.

Agenda Padat, Nafas Seni

Kedatangannya bukan sekadar kunjungan biasa. Agenda seninya padat. Sehari sebelumnya ia tampil di Festival Kota Lama Semarang. Dari sana, ia meluncur ke Solo untuk mengikuti workshop karawitan, lalu ke Universitas Katolik Soegijapranata berbagi pengalaman bermusik. Esoknya, jadwal sudah menunggunya di Jakarta, sebelum akhirnya kembali ke Belanda.

Rangkaian perjalanan itu menegaskan satu hal: musik tradisi Jawa masih memiliki magnet yang kuat, bahkan bagi seniman asing yang terbiasa dengan notasi Barat.

Rumah Terbuka Bernama Teater Lingkar

“Senang sekali bisa menjadi tuan rumah yang baik,” ujar Sari, pengasuh Sanggar Seni Teater Lingkar, yang menaungi kelompok karawitan Sindhu Laras. Menurutnya, sanggar ini memang terbuka untuk siapa saja. Tidak hanya seniman asing, tapi juga pelajar, mahasiswa, hingga orang awam yang sekadar penasaran ingin mencoba.

“Mau gamelan, wayang kulit, atau sekadar nembang Jawa, semua bisa difasilitasi di sini,” tambahnya.

Bagi komunitas seni itu, membuka ruang pertemuan lintas budaya sama pentingnya dengan melestarikan tradisi.

Diplomasi Nada

Kunjungan tersebut juga mendapat sambutan hangat dari Bob Wardhana, staf Kedutaan Indonesia yang turut mendampingi. Ia bahkan ikut menabuh gamelan. “Meski sebentar, pengajarnya runtut. Tidak hanya soal cara memukul, tapi juga teknik dasar. Jadi pengalaman ini bukan sekadar coba-coba,” ungkapnya.

Diplomasi budaya, tampaknya, lebih mudah merasuk lewat harmoni nada. Dalam waktu singkat, para tamu asing itu tidak hanya belajar memainkan alat, tetapi juga mulai memahami filosofi di balik setiap tabuhan.

Dalang Muda, Tradisi Tua

Bagi Sindhunata Gesit, Ketua Teater Lingkar sekaligus dalang muda, kunjungan ini adalah bukti bahwa tradisi Jawa masih bisa berdialog dengan dunia modern. “Saya tidak menolak budaya luar, karena kesenangan tidak bisa dipaksa. Tapi tradisi warisan bangsa jangan ditinggalkan,” katanya.

Sindhu kerap bereksperimen dengan format pertunjukan agar lebih dekat dengan generasi muda. Ia pernah memadukan musik modern dengan wayang, atau menyelipkan tema populer agar pertunjukan tidak kaku. “Dalam seni tidak ada benar atau salah. Yang penting bagaimana penonton bisa terhubung,” ujarnya.

Harmoni yang Menyatukan

Hari itu, Sanggar Teater Lingkar bukan sekadar ruang latihan. Ia menjelma menjadi jembatan budaya: dari Jawa ke Belanda, dari generasi tua ke generasi muda, dari tradisi menuju modernitas. Gamelan tidak hanya berbicara lewat nada, tetapi juga lewat perjumpaan.

Dan ketika seorang musisi asing bisa tersenyum bangga setelah menabuh saron untuk pertama kalinya, mungkin itulah bukti paling sederhana: seni memang bahasa universal.

(Ganang)

You might also like