Independennews.com | Semarang — Bagi Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, nasionalisme bukan sekadar mengibarkan bendera Merah Putih setiap bulan Agustus. Di hadapan para anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Semarang yang baru dikukuhkan, Kamis lalu, ia menyampaikan pesan yang menukik: bentuk penjajahan kini lebih halus, menembus hingga ke sistem ekonomi.
“Anak-anak sekarang tantangannya jauh lebih besar. Penjajahan terjadi melalui sistem ekonomi yang tak kasat mata,” tegas Agustina.
Ia memberi contoh sederhana namun tajam: benih bayam hingga padi, yang sebagian besar masih bergantung pada pasokan perusahaan luar negeri. Ketergantungan itu, katanya, ibarat lubang kecil yang perlahan menggerogoti kedaulatan pangan dan membuka celah bagi “penjajahan baru”.
Agustina mengajak generasi muda untuk mencintai produk lokal dan menjaga kemandirian pangan. Ia menekankan pentingnya keberanian memproduksi benih sendiri, sebagaimana yang telah dilakukan para leluhur.
“Itulah nasionalisme menurut saya. Mari secara perlahan melepaskan diri dari ketergantungan benih,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Agustina menatap barisan Paskibraka—muda-mudi terbaik Kota Semarang—dan berpesan agar mereka percaya diri, melaksanakan tugas dengan penuh kebanggaan, serta mencintai tanah air sepenuh hati.
“Di pundak kalian masa depan Semarang. Saat Merah Putih berkibar 17 Agustus nanti, jangan sekadar menjalankan tugas. Kibarkan janji: mencintai, menjaga, dan membela Indonesia—dari sangkakala hingga sawah,” pungkasnya.
(Gamang i)