IndependenNews.com, Humbahas | Ikan Pora-Pora menjadi salah satu ikan yang paling digemari penikmat ikan di Indonesia, khususnya di daerah seputaran Danau Toba, Sumatera Utara.
Selain harganya yang murah, ikan ini juga termasuk mudah dikelola dan dapat dihidangkan dengan berbagai macam pola masakan. Sebelum dimasak, sisik Ikan Pora-Pora tak perlu dibuang. Bagian perut cukup ditekan pelan untuk mengeluarkan isi perut ikan.
Di samping rasanya yang nikmat, Ikan Pora-Pora ini banyak diminati karena ternyata juga mengandung protein, lemak, dan vitamin yang sangat baik untuk kesehatan manusia.
Saat ini Ikan Pora-Pora sudah mulai muncul dan di jual kembali ke pasaran. Saat ini harganya berkisar Rp 20.000,- hingga Rp 25.000,- per kg. Dalam setiap Kg jumlah ikan bisa mencapai 25 hingga 35 ekor, tergantung ukuran ikan.
Dikutip dari penjelasan Kabid Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Humbang Hasundutan Martongam Sirait, Senin (28/8/2023), Ikan Pora-Pora adalah ikan endemik di danau Toba. Namun menurut dia, Ikan tersebut memiliki kemiripan dengan ikan bilih di Minangkabau, Sumatera Barat.
“(Ciri-ciri) berwarna hitam, bersisik putih dan halus, panjang total 7,5 cm, panjang kepala 1,4 cm, panjang badan 5,4 cm, panjang ekor 1,5 cm, tinggi badan 1,2 cm, perut membundar”, kata Martongam.
Tambahnya, sirip punggung Ikan Pora-Pora ini berjari – jari keras bertulang dan terletak dimuka atau bertepatan dengan sisi perut. Sirip punggung dengan 7 jari lemah bercabang.
Dijelaskan Martongam, beberapa alasan mengapa Ikan Pora-Pora dapat tumbuh dan berkembang pesat di Danau Toba adalah karena di Danau Toba tersedia makanan yang disukai Pora-Pora berupa plankton, detritus dan sisa pakan dari budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) yang cukup melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal oleh ikan lain.
“Ikan pora pora termasuk ikan benthopelogis, yaitu jenis ikan yang dapat memanfaatkan jenis makanan yang berada di dasar perairan maupun di lapisan tengah dan permukaan air”, terangnya.
Ikan Pora-Pora juga menurut Martongam, bersifat tidak berkompetisi atau berebut makanan dan ruang dengan ikan lain di Danau Toba seperti Ikan Mujair, Mas, Nila dan lainnya. Sehingga dipastikan tidak akan mengganggu eksistensi ikan jenis lainnya di perairan Danau Toba.
“Tempat pemijahan Ikan Pora-Pora berada di sungai yang masuk ke Danau Toba (sungai)”, sambungnya.
Diceritakan Martongam lagi, Ikan Pora-Pora ada di Danau Toba berawal pada tahun 2001, saat mantan presiden RI Megawati Soekarno Putri menaburkan bibitnya. Kemudian penaburan bibit juga dilanjutkan kembali pada tahun 2003 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan di era Rokhmin Dahuri.
“Beberapa tahun yang lalu Ikan pora-pora menjadi andalan nelayan di kawasan Danau Toba. Permintaan ikan Pora-pora semakin meningkat, bahkan dijual sampai ke luar daerah”, katanya.
Sementara untuk perkembangannya sendiri, kata Martongam, Ikan ini berkembang biak sangat cepat. Bertelur mulai umur 3 minggu dan umur telur 3 hari sudah menetas.
(Tinton)