STATEMENT PENASEHAT HUKUM KELUARGA ALMARHUM BRIPDA NS

Di tengah luka yang sampai hari ini belum juga sembuh, keluarga almarhum Bripda NS masih berusaha berdiri tegar. Kehilangan seorang anak, seorang putra yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga, tentu bukan perkara yang mudah diterima begitu saja. Ada kesedihan yang tidak bisa diukur dengan kata-kata, ada kehampaan yang tidak bisa diisi oleh apa pun, dan ada pertanyaan-pertanyaan yang setiap hari terus menghantui hati kedua orang tuanya: mengapa ini bisa terjadi, dan kapan kebenaran itu benar-benar terbuka.

Sebagai kuasa hukum, kami menyaksikan sendiri bagaimana orang tua almarhum menjalani hari-hari mereka dengan air mata yang sering kali ditahan dalam diam. Di balik ketegaran yang mereka tunjukkan di hadapan publik, sesungguhnya ada hati yang remuk. Namun dalam kondisi seduka itu, keluarga memilih untuk tidak larut dalam amarah. Mereka memilih satu jalan yang mereka yakini masih bisa menghadirkan secercah keadilan, yakni mempercayakan proses ini kepada hukum.

Sampai dengan saat ini, kami memandang bahwa penanganan perkara yang dilakukan oleh Polda Kepulauan Riau masih menunjukkan adanya keterbukaan. Keluarga melihat bahwa sejak awal, langkah-langkah yang ditempuh mulai dari sidang kode etik hingga proses pidana umum terhadap empat tersangka berjalan dengan cukup transparan. Bagi keluarga, setiap perkembangan itu menjadi pegangan kecil agar mereka tetap kuat, karena hanya melalui kebenaran hukum itulah mereka berharap luka ini tidak berakhir sia-sia.

Kami juga masih melihat adanya ketegasan dari Kapolda Kepri untuk membawa perkara ini tetap berada pada rel profesionalisme dan objektivitas. Di tengah begitu derasnya perhatian masyarakat, keluarga menaruh harapan agar institusi ini benar-benar menjadi tempat mereka menemukan jawaban atas kematian anak yang mereka cintai.

Perlu dipahami, keluarga almarhum bukan sedang mencari sensasi, bukan pula sedang membangun kegaduhan. Mereka hanyalah orang tua yang kehilangan darah dagingnya. Mereka hanya ingin tahu dengan jujur apa yang sesungguhnya terjadi pada anak mereka di malam nahas itu. Mereka hanya ingin memastikan bahwa nyawa anak mereka tidak hilang begitu saja tanpa pertanggungjawaban yang terang.

Karena itu, kami mengimbau kepada masyarakat untuk ikut mengawal perkara ini dengan hati nurani. Dukungan publik tentu menjadi kekuatan moral bagi keluarga, tetapi pengawalan itu hendaknya dilakukan secara bijaksana, tidak dengan membangun asumsi liar yang justru menambah luka. Keluarga hari ini membutuhkan ketenangan untuk menanti keadilan, bukan hiruk pikuk yang membuat beban batin mereka semakin berat.

Kami juga berharap tidak ada pihak-pihak yang menjadikan peristiwa duka ini sebagai panggung kepentingan. Sebab di balik setiap pemberitaan, di balik setiap diskusi yang berkembang, ada sepasang orang tua yang masih menangis dalam doa mereka setiap malam, berharap anaknya mendapatkan keadilan yang layak.

Sampai detik ini, orang tua almarhum Bripda NS masih memberikan kuasa penuh kepada kami, dan lebih dari itu mereka masih menyimpan sisa kepercayaan kepada penyidik Polda Kepulauan Riau untuk menuntaskan perkara ini dengan seterang-terangnya. Kepercayaan itu mungkin adalah satu-satunya sandaran yang kini mereka miliki di tengah rasa kehilangan yang begitu besar.

Harapan keluarga sesungguhnya sangat sederhana: jangan biarkan kematian anak mereka berlalu hanya sebagai catatan perkara. Bukalah semuanya dengan jujur. Tegakkan hukum dengan hati. Hadirkan keadilan dengan nurani. Karena bagi orang tua yang ditinggalkan, keadilan bukan sekadar putusan—tetapi adalah satu-satunya obat yang mungkin bisa sedikit meredakan luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh.

[Editor : Gusmanedy Sibagariang]

You might also like