Independennews.com | Semarang — Suasana di GOR Indoor Jatidiri, Semarang, Jumat pagi (31/10), terasa hangat dan penuh semangat. Ratusan atlet pelajar berbaris rapi mengenakan seragam merah-putih dengan lambang Jawa Tengah di dada. Di hadapan mereka, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, berdiri menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna: bertandinglah dengan hati dan kendalikan diri.
Pelepasan tersebut menandai keberangkatan kontingen Jawa Tengah menuju dua ajang olahraga pelajar terbesar di tanah air — Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) XVII dan Pekan Paralympic Pelajar Nasional (PEPARPENAS) XI, yang akan digelar di DKI Jakarta pada 1–10 November 2025.
Tahun ini, Jawa Tengah memberangkatkan 389 atlet muda, terdiri dari 339 atlet pelajar dan 50 atlet paralympic pelajar. Mereka akan berlaga di 23 cabang olahraga POPNAS, mulai dari angkat besi, atletik, panjat tebing, hingga wushu. Sementara di PEPARPENAS, kontingen Jateng akan berkompetisi di empat cabang olahraga: para atletik, para bulutangkis, para renang, dan para tenis meja.
Menurut Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, Muhamad Masrofi, seluruh atlet yang diberangkatkan telah melalui proses seleksi ketat dan objektif.
“Kami melibatkan unsur KONI, Pengprov setiap cabang olahraga, Balai PPLOP, para analis keolahragaan, hingga NPCI Jawa Tengah. Setiap nama yang terpilih sudah melalui seleksi, pantauan, dan catatan prestasi yang terukur,” ujarnya.
Pemusatan latihan berlangsung di Semarang dan Surakarta pada 25–30 Oktober 2025. Di dua kota ini, para atlet tidak hanya ditempa untuk memperkuat fisik, tetapi juga untuk membangun ketahanan mental, sportivitas, dan disiplin, sebagai nilai utama dalam dunia olahraga.
Dalam sambutannya, Sumarno menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara semangat bertanding dan ketenangan jiwa.
“Kalian sudah berlatih keras. Tapi ingat, jangan sampai kerja keras itu sia-sia hanya karena grogi atau demam panggung. Kendalikan diri, fokus, dan tampil dengan penuh keyakinan,” pesannya tegas.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan selama mengikuti pertandingan.
“Atur pola makan, istirahat yang cukup, dan tetap disiplin. Kami berharap kalian bisa mengharumkan nama Jawa Tengah, bukan hanya dengan medali, tetapi juga dengan sikap dan semangat sportivitas,” tutup Sumarno.
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi GOR Jatidiri. Di antara wajah-wajah muda itu, tersirat perpaduan antara gugup, bangga, dan tekad. Bagi mereka, ajang ini bukan sekadar pertandingan, tetapi ujian karakter — tentang kerja keras, kedisiplinan, dan kesetiaan terhadap proses.
Dari Jatidiri, mereka berangkat membawa harapan. Bahwa di setiap lompatan, pukulan, dan ayunan raket, ada nama Jawa Tengah yang mereka junjung tinggi. Dan di setiap tetes keringat, tersimpan cita-cita untuk membuktikan bahwa masa depan olahraga Indonesia sedang tumbuh dari tangan-tangan muda ini.
(Ganang)